Aksi Nyata Pemuda Bogor: Tangannya Kotor demi Sungai Ciliwung yang Bersih Bersama Komunitas Alkesa

BOGOR — Pagi itu, kabut tipis dan udara dingin khas Kota Hujan masih menyelimuti bantaran Sungai Ciliwung di kawasan Bogor. Namun, suasana di tepi sungai sudah riuh. Puluhan anak muda berkaos santai, lengkap dengan sarung tangan karet dan sepatu boots, sudah bersiap melangkah masuk ke dalam alirannya.

Mereka bukan sedang berwisata, melainkan bersatu dalam aksi "Aksi Bersih Ciliwung" yang diinisiasi oleh komunitas Alkesa (Alam Kesadaran dan Aksi). Di tengah ramainya tren tempat nongkrong dan coffee shop modern di Bogor, sekelompok pemuda ini memilih cara berbeda untuk menghabiskan akhir pekan mereka: memungut sampah demi menyelamatkan sungai kebanggaan warga Bogor dan Jakarta ini.

Sampah Plastik dan Krisis Kesadaran

Sungai Ciliwung telah lama menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jawa Barat hingga Jakarta. Sayangnya, akumulasi sampah rumah tangga, plastik sekali pakai, hingga limbah tekstil kerap menutupi keindahan dan mengancam ekosistemnya.

Melihat kondisi ini, Komunitas Alkesa menggerakkan potensi terbesar yang dimiliki kota ini: energi para pemudanya.

"Banyak yang berpikir bahwa menjaga lingkungan itu tugas pemerintah atau aktivis senior saja. Padahal, kita yang muda-muda ini yang akan menanggung dampaknya di masa depan. Alkesa hadir untuk mengubah rasa prihatin menjadi gerakan nyata," ujar salah satu koordinator lapangan dari Alkesa.

Gotong Royong Menyusuri Aliran Sungai

Aksi dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Membawa karung-karung besar, capit sampah, dan semangat gotong royong, para relawan muda menyisir bantaran hingga sudut-sudut sungai yang dangkal. Mulai dari botol plastik, bungkus makanan, hingga pakaian bekas terangkat satu per satu dari dasar air.

Tidak sekadar memungut sampah, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi pemilahan sampah (waste sorting) secara langsung di lokasi. Sampah-sampah yang terkumpul dipilah menjadi dua kategori utama:

  1. Anorganik yang dapat didaur ulang (seperti botol PET dan kaleng) untuk disalurkan ke bank sampah setempat.
  2. Residu yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bekerjasama dengan dinas lingkungan hidup lokal.

Dalam kurun waktu kurang dari empat jam, aksi bersama Alkesa ini berhasil mengumpulkan puluhan karung sampah dengan total berat mencapai puluhan kilogram.